Heiya, fathia yakin pasti kalian sudah pada tau kan kalau hari ini adalah hari bumi. Hari Bumi dirancang untuk meningkatkan kesadaran dan apresiasi kita terhadap planet yang ditinggali manusia ini yaitu bumi kita. Dicanangkan oleh Senator Amerika Serikat Gaylord Nelson pada tahun 1970 seorang pengajar lingkungan hidup. Tanggal ini bertepatan pada musim semi di Northern Hemisphere (belahan bumi utara) dan musim gugur di belahan bumi selatan. PBB sendiri merayakan hari bumi pada 20 Maret sebuah tradisi yang dicanangkan aktivis perdamaian John McConnell pada tahun 1969, adalah hari dimana matahari tepat diatas khatulistiwa yang sering disebut Ekuinoks Maret.
Dalam hari bumi ini kita jangan hanya mengucapkan tapi bertindaklah. Mulai dari hal yang kecil saja dulu misalnya lingkungan sekitar kita. Apa kita sudah menjaga lingkungan kita ? apa kita sudah menanam pohon di halaman rumah ?
Kepedulian dan rasa hormat pada lingkungan, minimal dimulai dari lingkungan sekitar. Memang hanya merupakan usaha kecil, tapi sangat berarti bagi kelestarian lingkungan.Teman kalian tau gk kalau bumi kita bisa ngomong nih dia pasti teriak “ woi panas woi lindungin gw “ ketika hutan di babat, banjir melanda, tanah longsor itu adalah bukti marahnya bumi terhadap kita semua yang tidak menjaganya. Ini semua karena ulah siapa kita manusia yang tidak sadar kalo bumi adalah istana kehidupan yang sempurna.
Jika saja setiap manusia sadar untuk menanan “1 pohon” saja itu sangat berguna sekali bagi bumi kita ini karena akan mencegah kehancuran bumi kita. Satu pohon sangat bermanfaat untuk seribu zaman.Ini ada pesan bumi pada hari bumi.!
Pesan Bumi Pada Hari Bumi
Andaikan bukan lima milyar manusia menghuni bumi, melainkan
lima milyar harimau; tidak ada jarak seratus meter pun di Pulau Jawa tanpa anda bertemu seekor harimau. Apa anda tidak akan mengalamitrauma/frustrasi dihantui begitu banyak harimau?
lima milyar harimau; tidak ada jarak seratus meter pun di Pulau Jawa tanpa anda bertemu seekor harimau. Apa anda tidak akan mengalamitrauma/frustrasi dihantui begitu banyak harimau?
Bagi umat bumi yang beruntung tidak dibudidayakan, melihat manusia ibarat melihat harimau yang lebih harimau daripada harimau yang sebenarnya; karena “manusia harimau” ini tidak puas memakan daging
saja, melainkan juga hasil tumbuh-tumbuhan, ya buah, daun, bunga, kayu bahkan juga bahan bakar, logam, plastik, semen, beton dan lain-lain lagi.
saja, melainkan juga hasil tumbuh-tumbuhan, ya buah, daun, bunga, kayu bahkan juga bahan bakar, logam, plastik, semen, beton dan lain-lain lagi.
Bayangkan, untuk memenuhi kebutuhan lima milyar “manusia harimau” itu, betapa banyak makhluk bumi harus dibudidayakan (alias dicalon-korbankan), diburu, ditembak, dijerat, dijaring, dipancing,
dibabat, digergaji,…. Perut bumi pun dibor dan diledakkan. Dan pengotorannya tidak tanggung-tanggung mencemari tanah, sungai, laut, udara bahkan menyebabkan hujan asam, merusak lapisan
ozon diudara dan meningkatkan suhu bumi.
dibabat, digergaji,…. Perut bumi pun dibor dan diledakkan. Dan pengotorannya tidak tanggung-tanggung mencemari tanah, sungai, laut, udara bahkan menyebabkan hujan asam, merusak lapisan
ozon diudara dan meningkatkan suhu bumi.
Jika dibiarkan, dalam tahun 2025 menurut ramalan, umat manusia akan mencapai jumlah 8,5 milyar. Naik sekitar 3,5 milyar dalam 35 tahun menuju malapetaka dimana bumi berikut umat insan akan meratap dan
berkabung.
berkabung.
Sebaliknya, andaikan bukan kenaikan melainkan penurunan 3,5 milyar jumlah penduduk itu bisa diwujudkan, bumi dan umat insan akan berseri. Begitulah pesan bumi.
Sadar akan “menghamanya” umat manusia, di Indonesia, terutama dikota-kota besar yang padat penduduk, pasangan-pasangan subur sibuk ber-KB untuk menurunkan jumlah populasi sampai serendah-rendahnya. Memang lebih baik, daripada menurunkannya melalui peperangan atau membiarkan orang-orang mati konyol melalui kelaparan atau penyakit. “Satu anak saja demi masa depan tanpa polusi, tanpa kemacetan lalu-lintas, tanpa pengangguran, tanpa kemiskinan, tanpa harus hidup berhimpit dalam kampung kumuh/rumah susun, tanpa transmigrasi, tanpa penggusuran, tanpa cemas kehamilan, tanpa pengguguran,…”
Begitulah semboyan mereka. Semoga menjadi kenyataan.
Kompas, 29 April 1990.
Sekarang mulailah dari diri kita, dari lingkungan kita, jangan tunggu bumi mengatakan: Tak ada lagi yang tersisa yang bisa kuberikan buat kamu “manusia” semua telah rusak, semua sudah terenggut, semua sudah punah akibat keserakahan kamu sendiri, yang bisa kuberikan adalah bencana sepanjang tahun.
SELAMAT HARI BUMI !
